Thursday, November 18, 2010

Cakrawala Dharma

Adalah para Yang Ariya yang dengan mata kebijaksanaannya mampu melihat Dharma (Sansekerta) atau Dhamma (Pali), sebuah kata yang melingkupi makna yang sangat luas. Kenapa para ariya? Karena para ariya adalah orang yang telah tersucikan, orang yang telah mengatasi dukkha, yang telah menembus Dhamma bahwa hakekat “segala sesuatu adalah tanpa inti yang kekal.” “Sabbe dhamma anatta’ti, yada pannaya passati. Attha nibbindati dukkhe, esa maggo visuddhiya.” “Segala sesuatu adalah tanpa inti (yang kekal).

Yang ariya yang telah mencapai kesempurnaan, yang telah memahami Dharma, menunjukkan bahwa Dharma merupakan jalan untuk mencapai kesucian, dan jalan untuk mencapai kesucian, kesempurnaan ini hanya dapat dipahami dengan setepat-tepatnya dan juga dibabarkan oleh mereka yang telah mencapai kesucian.

Pengertian Dharma (Dhamma) itu sendiri memang mengandung makna yang sangat luas dan dalam, bagaikan cakrawala tak bertepi. Mahavagga: “Dhamma ini amat dalam, sukar diketahui, sukar dipahami, luhur, amat dalam, mengatasi pemikiran, halus dan hanya dapat diselami oleh para bijaksana (yang telah mencapai Penerangan Sempurna).

Prof. Th. Scherbatsky, misalnya dalam bukunya “The Central Conception of Buddhism and the Meaning of the Word Dharma,” sebuah buku yang bersumber dari sebuah kitab Mahayana yaitu Abhidharmakosa yang disusun oleh Vasubhandu, menyebutkan arti kata Dhamma tersebut dalam empat klasifikasi, yaitu: secara harfiah, ontology, etika, dan keagamaan.

Secara harafiah dalam bahasa Sansekerta, kata itu mempunyai akar-kata dhr, yang berarti ‘berada dalam dirinya’ atau ‘mengandung, menjunjung, menunjang dirinya.’ Kata yang menunjukkan berada ‘ada’ (what exists) ini mengacu kepada segala sesuatu; dari yang konkrit seperti hasil kebudayaan, peradaban atau debu yang tidak terkirakan kecilnya sampai yang paling abstrak seperti pikiran, perasaan, karma, buah karma, Nibbana, dan jalan untuk mencapai Nibbana.

Pemahaman secara harafiah ini menuntun kepada pemahaman secara ontologis, yakni sebagaimana yang diungkapkan dalam Anguttara Nikaya, yang mengelompokkan tentang “ada” sebagai sankhata-dhamma (ada yang bersifat tidak mutlak) dan asankhata dhamma (ada yang bersifat mutlak, tidak berkondisi). Pemahaman ini hanya dapat dicapai oleh para ariya yang telah tidak ditutupi oleh ketidaktahuan (avijja), yang telah mencapai Nibbana atau padamnya api keserakahan, kebencian dan kegelapan batin.

Dengan begitu, para ariya adalah mereka yang sungguh-sungguh memahami kebenaran yang transenden yang bersifat asankhata (ada, yang bersifat mutlak), sebagaimana yang terumus dalam Udana 8 ayat 3: Atthi Ajata, abhuta, akata dan asankhata. Ada (atthi), yang tidak dilahirkan (ajata), yang tidak menjelma (abhuta), yang tidak-diciptakan (akata), dan yang mutlak (asankhata), yang menjadi prinsip eskatologis (pembebasan) dan prinsip teleologis (tujuan akhir) umat Buddha.

Untuk itulah umat Buddha mengambil perlindungan kepada Dharma: “Dhammam saranang gacchami” (saya berlindung pada Dharma), dimana Dhamma sebagai Kebenaran Mutlak merupakan hulu dan muara sungai Dharmakaya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam Maha Parinibbana Sutta: “Setelah saya parinibbbana, Dhamma dan Vinaya yang saya ajarkan akan menjadi Guru dan Pemimpinmu..”

Itulah Tubuh Dharma (Dharmakaya), aspek dari batin yang suci, cerah, cemerlang, kedamaian yang terlihat dari ajaran-Nya. Tubuh dengan mana beliau mengajar, rupakaya/nirmanakaya (tubuh perwujudan), tubuh jasmani yang merupakan bagian dari proses pribadi yang tidak kekal. Sambhogakaya (tubuh kebahagiaan) adalah batin (nama) beliau semasa hidup; nibbana yang dialami selagi masih hidup.

Dhamma secara etika terpantul dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, dalam perilaku umatnya. Secara etika, berarti hukum moral, kejujuran, kelakuan yang baik, kewajiban, dan berhubungan erat dengan pengertian karma, menyangkut baik dan buruk perilaku, dan yang mencerminkan Dhamma sebagai jalan (magga) menuju tujuan akhir.

Tujuan sekaligus jalan, jauh sekaligus dekat ada disini, sebagaimana dinyatakan dalam Dhammanussati: “Dharma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Buddha; berada sangat dekat, tidak dibatasi oleh waktu, layak untuk diperlihatkan, membawa kepada kebebasan, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing.”

Makna etis Dhamma ini akan semakin terlihat di dalam Digha Nikaya: “Gotama yang mahamulia terbangun karena sila, Samadhi, panna, kebebasan (dari samsara) yang merupakan Dhamma Tertinggi,” dan sekaligus makna ini menuntun kita kepada pemahaman secara keagamaan, yakni yang mencakup pengertian pengertian Dhamma sebagai Kebenaran Mutlak (yang transenden) dan Dhamma sebagai Yang Menguasai dan Mengatur Alam Semesta (yang immanen).

Makna Dharma yang dalam dan luas itu akhirnya dapat teringkas secara estetis dalam: Saddhamma “dhamam yang benar” “dhamma yang baik”, karena baik/indah pada permulaan, indah di tengah, dan indah pada akhirnya, yang telah mempesona banyak manusia dan makhluk dan menghantar kepada pembebasan, menciptakan banyak ariya suci, dan sekaligus menempatkan para ariya sebagai pembimbing dharma bagi umatnya.

Dhamma dalam makna agama yang disebut juga sebagai sasana inilah yang akan selalu dilestarikan, dipelihara, dan dibabarkan oleh para siswanya tanpa kenal lelah. “Sabba danam dhamma danam jinatti, dana dhamma melebihi semua dana,” sebagaimana yang digerakkan oleh para siswa-siswanya. (Jo Priastana).

Reaksi:

0 komentar: