Friday, March 11, 2011

Militer, Ekonomi dan Kepemimpinan Ala Sun Tzu

Sun Wu

Sun Wu

Sun Tzu bukan nama orang, tapi kitab ilmu kemiliteran tertua di Cina dan juga teori militer tertua di dunia. Ditulis oleh Sun Wu sekitar tahun 770 - 476 SM. Tidak diketahui pasti dan belum ada riset tertulis mengenai tanggal lahir dan meninggalnya, tapi bila dikira-kira Wu hidup di masa Confusius.

Sun Wu mendapat gelar kehormatan “Tzu”, adalah gelar kehormatan bagi laki-laki di Cina kuno. Itu juga yang membuat Sun Wu dikenal sebagai Sun Tzu dan teori militer yang ditulisnya populer dengan nama ‘Sun Tzu; The Art of War’.

Kedudukannya dalam ilmu pengetahuan kemiliteran Cina setara dengan Confusius (Guru) dalam ajaran Confusianisme. Karena itu Sun Tzu diberi gelar ‘Guru Militer dari Cina’.
* * * * *
Buku ini pertama kalinya dibawa keluar dari Cina yaitu ke Jepang sekitar abad ke-7 oleh utusan mahasiswa yang pernah belajar di negeri Cina pada masa Dinasti Tang. Orang Jepang memperlakukannya sebagai ‘Kitab Suci’ Ilmu perang. Gagasan utama buku ilmu perang kuno Jepang pun berasal dari buku ini. Dalam sejarah, Angkatan Laut Jepang berhasil mengalahkan Armada Rusia di Selat Tsu dalam perang Jepang-Rusia di awal abad 20. Pimpinan Angkatan Laut Jepang menerapkan asas dalam buku ini, “Menunggu dengan tenang sampai musuh kelelahan”.
Terracotta Army and the First Emperor of China (squido.com)

Terracotta Army and the First Emperor of China (squidoo.com)

Di Eropa, buku ini diterjemahkan di abad 18 oleh French Missionary Amor dalam bahasa Perancis dan diterbitkan di Paris tahun 1782. Napoleon Bonaparte yang menyapu bersih Benua Eropa pada masa itu juga mempelajari taktik kemiliteran dari buku ini.

Dalam Bahasa Inggris, diterjemahkan oleh Calob tahun 1900 sampai kemudian ditranslasi ulang oleh Sinolog Inggris bernama Charles yang dilengkapi dengan catatan-catatan. kemudian diterbitkan tahun 1910.

Setelah Perang Dunia II, Sitolengko dari Uni Sovyet menerbitkan terjemahan versi barunya. Tidak mau ketinggalan, Menteri Pertahanan Jerman Timur ikut menterjemahkan versi ini ke dalam bahasa Jerman dan menjadikannya sebagai bahan pendidikan dalam akademi militer. Sejak saat itu Rusia, Italia, Jerman, Cekoslovakia, dan negera-negara lain di dunia turut menterjemahkan ke dalam bahasa masing-masing untuk kepentingan riset di bidang strategi militer dan ekonomi.
* * * * *

Ada hal menarik yang dipelajari di kitab kuno ini. Bahwa aplikasinya bukan melulu pada kemiliteran dan perang melainkan dalam kehidupan. Para pemimpin di bidang apapun wajib mempelajarinya sebagai bagian dari kepemimpinan yang dijalankan.

Berikut beberapa teori Sun Tzu, mengenai aplikasinya silahkan pikirkan dan terapkan sendiri

5 Kesalahan Sifat dari Panglima Perang

Menurut Sun Tzu, ada 5 sifat kepribadian yang salah dari seorang Panglima Perang, di mana bila hal ini mengakut ada di diri seorang pemimpin, bisa menjadi penyebab kecelakakannya dan pasukannya dalam suatu pertempuran. Hancurnya sebuah angkatan perang dan tewasnya seorang Panglima harus diteliti secara seksama.

Seorang Panglima harus menghindari 5 kesalahan sifat:

1. Pemberani dan tak takut mati
Panglima dengan sifat seperti ini biasanya nekat sampai melupakan perhitungan dalam sebuah peperangan. Ia dapat saja mati terbunuh atau dibunuh sehingga merugikan pasukannya.

2. Penakut dan takut mati
Panglima dengan sifat seperti ini biasanya selalu mencari perlindungan dan ia akan mudah tertawan dan ditawan sehingga pasukan kehilangan pegangan.

3. Tergesa-gesa dan gampang naik darah
Panglima dengan sifat seperti ini akan diserang kepribadiannya dengan cara diolok-olok sehingga ia cepat marah.

4. Jujur dan teguh serta sangat menjaga nama baik
Panglima dengan sifat seperti ini akan diserang kepribadiannya dengan cara dipermalukan.

5. Bijaksana dan penuh kasih sayang
Panglima dengan sifat seperti ini akan diserang kepribadiannya dengan cara diganggu dan diuji kasih sayang dan kebijaksanaannya.

Kombinasi dari kelima karakter sifat itu akan membentuk kepemimpinan yang unggul.

Raja dan Panglima Perang

Menurut Sun Tzu, Perang adalah kegiatan tipu muslihat. Panglima yang akan memenangkan peperangan adalah panglima yang tekun menyusun dan menyiapkan siasat perang dengan cermat. Panglima perang adalah pengawal negara. Jika pengawal negara kuat maka negara kuat. Jika panglima lemah maka negara akan lemah.

Namun seorang raja bisa menghancurkan negaranya sendiri apabila:

* Raja tidak mengetahui bahwa angkatan perangnya tidak boleh maju perang malah memerintahkannya untuk berperang. Siasat ini dinamakan raja membelenggu tentara sendiri. (Tentara diperbudak oleh raja semaunya).

* Raja tidak tahu-menahu soal kemiliteran tetapi ikut campur dalam menangani hal-hal militer. Hal ini membuat panglima dan prajurit menjadi kebingungan.

* Raja tidak tahu-menahu soal memilih panglima perang, tetapi ia ikut campur dalam menentukan dan mengangkat seorang panglima perang sehingga tentara menjadi curiga. Jika tentara kebingungan dan penuh kecurigaan maka akan datang gangguan dari negara tetangga. Hal ini dinamakan raja menghancurkan angkatan perangnya sendiri.

Reaksi:

0 komentar: