Friday, June 03, 2011

pikiran vs kesadaran

kita mengendalikan kesadaran kah....?

atau

kita mengendalikan pikiran....?

nb:
mungkin anda perna mengalaminya ya?

saat kita secara langsung atau tidak langsung mengalami terluka,
pada saat seketika itu juga kita ga menyadarinya kesakitannya,
nah setelah kita lihat luka kita,pikiran berkerja mengirim arti sakit di luka kita,dan pada saat nyampenya kiriman itu ke pikiran kita,barulah kita rasakan sakitnya pada luka tsb,


dari sini apakah yang mengendalikan rasa kesakitan itu?
apakah pikiran atau kesadaran kita ?

apa kesadaran yang mengendalikan pikiran?

atau pikiran yang mengendalikan kesadaran?



Kesadaran dpt dikelompokkan menjadi 6:
1. Kesadaran Penglihatan
2. Kesadaran Pendengaran
3. Kesadaran Penciuman
4. Kesadaran Pengecapan
5. Kesadaran Tubuh (perabaan, panas-dingin,dll)
6. Kesadaran Pikiran

Dalam Mahayana, dikenal pula:
7. Kesadaran ke-7 (Kesadaran Diskriminasi)
8. Kesadaran ke-8 (Alaya vijnana/Gudang Kesadaran)
Keduanya ini adalah bagian dari Kesadaran Bawah-Sadar.

Kesadaran Pikiran itu sebenarnya tak lain adalah Pikiran itu sendiri, dan Kesadaran Pikiran selalu muncul menyertai salah satu kesadaran 5 indriya. Saat tidur, kesadaran pikiran berkurang atau bisa non-aktif, tapi Kesadaran ke-7 tetap jalan, tanpa pernah berhenti. Kesadaran ke-7 AKA Pikiran diskriminasi inilah yg secara bawah sadar membeda-bedakan segalanya.
Sedangkan akarnya Dosa,Lobha,Moha bersarang di Kesadaran ke-8. Kesadaran ke-8 ini yang disebut Pikiran yang Cemerlang, hanya saja diselimuti oleh 3 akar kejahatan. Di mana dalam Pitaka Pali pun Buddha mengatakan: 'Pikiran ini pada dasarnya Suci.'

Jadi bagaimana membedakan Pikiran dan Kesadaran? Keduanya itu satu... Tinggal kita yang melihat dari sudut pandang apa.

Cara mengontrol pikiran yah meditasi. Tanpa meditasi paling cuma bisa mengontrol sampai sebagian Kesadaran ke-6, takkan mencapai Pikiran Membedakan yang lebih dalam dan halus.

Inspirasi pun merupakan level tinggi dari kesadaran ke-6, hampir tapi belum termasuk kesadaran ke-7. So, begitulah, tidak gampang mengakses kesadaran yg lebih tinggi.

Namun, sekarang banyak ditemukan metode2 mengakses bawah sadar spt hipnosis, NLP dll. Teknik ini bisa diaplikasikan dengan teknik Buddhis, walaupun teknik ini masih kalah jauh sekali dengan Vajrayana yg super canggih.
Paling tidak kita mengetahui cara kerja, ciri2 dan jalur proses kesadaran. Jadi kita bisa memperbaiki diri sedikit demi sedikit.
Mempelajari psikologi modern itu cukup membantu dalm memahami ajaran Buddha. Dharma memang level tinggi, sulit dipahami. Psikologi itu ibarat pengantar utk Dharma.

kalo saya berpendapat kesadaran dan pikiran itu terpisah

ketika pikiran menterjemahkan sesuatu,di awali oleh kesadaran itu sendiri makanya baru terciptalah berbagai bentuk pikiran.
jika pikiran itu sendiri adalah kesadaran,maka tidak akan terbentuk pikiran2 yang lain,di kerenakan kita sudah sadar akan yang kita lihat,kita rasakan.maka akan dengan secara otomatis pikiran itu berkerja menurut kesadaran...

ada sesuatu yang mengendalikan pikiran itu,dan saya belum mengerti apakah yang mengontrol itu adalah kesadaran?
dan jika yang mengontrol itu adalah kesadaran,
bagaimanakah kita mengontrol kesadaran itu sendiri
memang pikiran itu halus,akan tetapi kedadaran itu lebih halus lagi dari pikiran dan seolah2 pikiran itu adalah kesadaran....
apakah betul pikiran itu sendirilah adalah kesadaran?

bagaimana menterjemahkan kesadaran itu?
dan bentuk2 dari pikiran berbeda loh dari bentuk2 kesadaran
dan saya juga ga begitu bisa menjelaskan bentuk2 dari kesadaran....
kalo bentuk2 pikiran kan sudah jelas.....
apa yang kita pikirkan itu adalah bentuk2 dari pikiran

mohon bimbingannya lagi ya mengenai kesadaran....

thx

soalnnya kesadaran itu halusssss sekali,melebihi pikiran....
itulah yang baru saya dapat selama ini....
tetapi belum begitu bisa melihat jelas bagaimana proses kesadaran itu berkerja....
kalo pikiran....sedikit2 bisah lah di lihat....
tetapi kalo kesadaran masih binggug nih.....

hellllllllppppppppp

Perasaan dapat di bedakan dalam 3 golongan

1.Perasaan present, yaitu perasaan yang timbul dalam keadaan yang sekarang nyata dihadapi , yaitu berhubungan dengan situasi yang aktual

2.Perasaan yang menjangkau maju , merupakan jangkauan kedepan yaitu perasaan dalam kejadian kejadian yang akan datang ,jadi masih dalam pengharapan .

3.Perasaan yang berkaitan dengan waktu yang telah lampau ,yaitu perasaan yang timbul dengan kejadian kejadian yang telah lalu .Misalnya orang merasa sedih karena teringat pada waktu masih dalam keadaan jaya .
saya mau tanya dulu dimana perasaan yto saat ini ...jadi saya bisa memahami tingkat kesadaran dan pikiran yang di tanyakan


Kalo mnurut saya, kesadaran itu adalah pengendalian dari pikiran. dengan kesadaran, saya bisa mengendalikan pikiran2 saya. kalo kesadaran kalah, pikiran akan menang dan melaksanakan segala sesuatunya termasuk menggunakan perasaan untuk berbuat hal tanpa disadari yg bisa berakibat tidak baik. jadi kesadaran haruslah menang. disaat tergigit nyamuk dan merasa sakit, gatal2 dll, itu pikiran bekerja, dan jika pikiran itu menang dlm artian kesadaran kalah, saya bisa menderita, muncul emosi dan rasa ingin membunuh tuh nyamuk dan PLOK matilah tuh nyamuk hehehe... karma buruk deh tu
tapi jika dilandasi kesadaran, maka bisa mengendalikan pikiran dan tidaklah jadi mati tuh nyamuk

satu lagi contoh lebih dalam. ketika jatuh cinta pada seseorang, maka pikiran kacau balau. di dalam pikiran ada pikiran sedih, senang, benci, cemburu, dll. tapi kalau kesadaran menang, maka semuanya bisa dikendalikan tanpa membuang banyak energi untuk ngelamun, sebaliknya tetap konsentrasi bekerja.

meditasilah untuk meningkatkan kesadaran. meditasi menyadarkan saya. dengan meditasi saya tertolong untuk bertindak bijak dikarenakan segala tindakan yg didasari kesadaran, akan bisa ditindak dengan lebih hati2 dan jernih.

semoga ini bisa membantu.

untuk yang melatih kesadaran dengan sangat baik, kesadaran bisa lebih tajam dan kuat dari pikiran. itu yang saya sedang latih. setiap hari, setiap jam setiap menit dan detik. karena waktu itu amatlah berharga. saya tidak tahu saya akan hidup berapa lama lagi. jadi dengan kesadaran, saya bisa bertindak benar dan terus meningkatkan pengetahuan, kebijaksanaan dan juga cinta kasih. pikiran bisa lebih dominan karena sudah terbiasa dari kecil untuk tidak menjaganya. faktor lingkungan juga membentuk pikiran ini nyeleweng kemana2. tanpa ada latihan keras untuk mengendalikannya dengan kesadaran penuh, tidaklah bisa megalahkannya (dalam hal ini seperti tong sam cong yang menundukkan sun go kong hehehe)
KESADARAN ( CITTA)

Kesadaran itu ada 6 kelompok, yaitu :

1. Kesadaran mata.
2. Kesadaran telinga.
3. Kesadaran hidung.
4. Kesadaran lidah.
5. Kesadaran badan.
6. Kesadaran pikiran.

Pada dasarnya Kesadaran adalah reaksi atau respon dari salah satu indera kita terhadap obyek-obyek sasaran yang bersangkutan. *Kesadaran ini tidak dapat mengenal obyek*, Kesadaran hanya berfungsi untuk menyadari atau mengalami adanya suatu obyek.

Contohnya : Kalau mata kita mendapat kontak dengan warna biru, maka kesadaran kita bangkit dan kita sadar tentang adanya warna, tetapi kita belum mengenalnya sebagai warna biru.
Pencerapanlah yang dapat mengenal warna itu sebagai warna biru.

Kesadaran mata ( cakkhu vinnana ) hanya berfungsi untuk melihat benda, tetapi melihat belum berarti mengenalnya. Begitu pula halnya dengan indera-indera yang lainnya.

*Kesadaran, perasaan dan pencerapan adalah saling berhubungan* , mereka tidak terpisah dan adalah tak mungkin memisahkan antara satu sama lain agar dapat menjelaskan kemampuan-kemampuan mereka yang berbeda; karena apa yang kita rasakan, itulah yang diserap, dan apa yang diserap itulah kita kenali.

Dalam Abhidhamma ,yang dapat dikatakan sebagai makhluk hidup,adalah apabila ia memiliki nama dan rupa (Kesadaran dan Fisik Jasmani).

" Nama" itu sendiri adalah Citta (Consciousness/kesadaran) dan
" Cetasika " (Mental Factor/unsur atau faktor batin/penyerta batin),
sedangkan "Rupa" adalah fisik /badan kasar kita.

Nah...Faktor batin (Cetasika) ini selalu mengikuti Kesadaran (Citta) , bagaikan bayangan suatu benda yang tidak pernah terpisah dari bendanya, dimana Timbul dan lenyapnya bersama dengan kesadaran, memiliki obyek yang sama dengan kesadaran dan Selalu memakai obyek yang sama dengan kesadaran.

Cetasika ini ada 52 jenis dan dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian besar, yaitu :

1. Annasamana cetasika (ada 13 cetasika umum ),

2. Sabbacittasadharana cetasika ( ada 7 cetasika yang terdapat di semua jenis citta )

3. Pakinnaka cetasika ( ada 6 cetasika yang muncul di-sebagian besar Citta)

Kayaknya disini saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang Cetasika ini, karena kalau dijelaskan detailnya, bisa puuuuanjaaaang... dan bisa membuat pusing si pembaca ...walaupun sesungguhnya, untuk menjelaskan soal Abhidhamma ini nggak bisa diputus-putus seperti ini, karena semua itu saling berhubungan erat dan tidak terpisahkan....

Sedangkan PIKIRAN/MIND itu sendiri adalah kombinasi dari Citta dan Cetasika.

Nah ...kembali ke pertanyaan awal dari rekan yto,..

teman2 manakah yang paling penting akan diri kita?
kita mengendalikan kesadaran kah....? atau
kita mengendalikan pikiran....?
Setelah kita mengetahui bahwa ; Kesadaran hanyalah berfungsi untuk menyadari atau mengalami adanya suatu obyek ( tidak mengenal obyek ).
( dia nggak akan berulah macam-macam kalau belum dipengaruhi oleh Pikiran yang memang lincah dan nakal itu )

Sedangkan Pikiran adalah kombinasi dari Citta dan cetasika ( tempat berkumpulnya para provokator /faktor-faktor batin ),

maka yang perlu dikendalikan adalah PIKIRAN itu sendiri....,karena ;

Pikiran adalah pelopor.
Pikiran adalah pemimpin.
Pikiran adalah pembentuk.

( Dhammapada I : 1 )


kesadaran itu menurut saya adalah kondisi/hasil.
dan pikiran adalah prosesnya.
proses pikiranlah yang menentukan sadar atau tidak sadar.
Jadi saya sependapat dengan Suhu Tanhadi kalau yg dikendalikan itu adalah pikiran (proses) bukan hasilnya (kesadaran).

Pertapa Gotama sendiri setelah melalui proses pengendalian pikiran selama 6 tahun, akhirnya beliau memperoleh kesadaran (pencerahan) tertinggi. Karna itu pula disebutkan Buddha itu adalah 'yang sadar', dan bukan yang pikir .

Sabda Sang Buddha mengenai Pikiran-lah yang harus dikendalikan sbb :

Orang-orang tua dan guru-guru mengajar kita bagaimana seharusnya kita bertindak, namun tidak banyak yang diajarkan bagaimana seharusnya mengendalikan pikiran kita. Dengan demikian, walau mungkin kehidupan kita dari luar tampak selaras, namun yang ada didalam, yaitu : pikiran kita, mungkin kacau, ruwet tak beraturan. Demi mencapai suatu kebahagiaan, pikiran yang tak disiplin harus dapat dikendalikan dan dirubah. dalam hal ini Sang Buddha pernah mengatakan :

" Sangatlah menakjubkan melatih pikiran itu,
Bergerak lincah, meraih apa saja yang dikehendakinya.
Sangat baik memiliki pikiran yang terlatih dengan baik.
Karena pikiran yang terlatih dengan baik akan membawa kebahagiaan.

Sulit ditangkap dan sangat licik,
Pikiran meraih apa yang diinginkan.
Oleh karenanya, para bijaksana mengendalikan pikirannya,
Karena pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan."

( Dhammapada : 35-36 )


Sabda yang ini juga memperjelas akan hal tsb.diatas....,

"Seseorang tidak mungkin mampu mengendalikan pikiran orang lain,
tetapi paling tidak ia dapat bertekad,
'Aku harus mampu mengendalikan pikiranku sendiri.'
Dengan cara inilah engkau seharusnya melatih dirimu sendiri,
dan dengan cara inilah pengendalian pikiran dilakukan."

Semua tergantung dari sudut mana kita memandangnya...
Dari sudut Pancaskandha, maka Pikiran bisa merupakan Skandha Samjna(sanna,ingatan dan pencerapan) dan Sankhara(ide, pemikiran); sedang kesadaran itu Vijnana (yang menyadari/mengetahui).
Atau seperti Abhidhamma yang bro paparkan.
Tapi kadang-kadang, pikiran itu bisa dianggap sama/menyatu dengan kesadaran, dengan alasan bahwa yang menyadari itu adalah tak lain pikiran/batin itu sendiri.
Bisa juga dikatakan pikiran adalah gerakan dari kesadaran.

Dari sudut kebenaran tertinggi, semua ini palsu, hanya ilusi. Kesadaran atau Pikiran yang Sejati itu adalah Kebuddhaan, yaitu kesadaran yang merupakan Aku Sejati (anatta), Kekal Abadi, Murni dan merupakan Kebahagiaan Mutlak.
Jadi, 'Pikiran' yang ini berbeda dengan apa yang kita sebut sebagai 'pikiran' sehari-hari.

Pikiran yang kita sebut adalah Kesadaran yang membeda-bedakan atau pikiran diskriminasi. Disebut begitu karena ia muncul dengan dasar 'diskriminasi Subjek-Objek'. Contohnya saat kita mulai duduk bermeditasi mengamati objek (ini hanya berlaku bagi yang belum mencapai pencerahan lho... ) secara halus kita merasakan adanya objek dan adanya subjek (kesadaran yang mengamati/menyadari). Di saat ini, pikiran pun menjadi objek yang disadari sebagai sesuatu yang bergerak/berproses (saat ini berlaku teori Pancaskandha di atas). Kemudian ada juga fungsi 'Mengenali' yang bekerja (mengenali objek meditasi dan yang bukan objek meditasi, yang merupakan Samjna) juga mengenali mana subjek dan mana objek. Saat demikian juga, kita secara halus merasakan apa yang kita sebut 'keberadaan' atau 'aku' atau 'diri', yaitu subjek batin yang menyadari itu. Keakuan ini dalam Mahayana disebut mengendap di kesadaran ke-8. Kesadaran yang bertingkat-tingkat ini sama seperti kacamata berwarna yang berlapis-lapis, kilesa menutupi kesadaran ke-8 kita hingga muncul kesadaran ke-7, dst. Lalu kesadaran palsu itu menjadi kacau balau dan bercampur aduk dengan 4 elemen(dhatu), sehingga muncul 6 kesadaran indriya. 6 Kesadaran Indriya itu awalnya satu, tapi setelah proses panjang terbagi menjadi 6 fungsi yang berbeda. Karena itu Jhana bisa diakses melalui salah satu yang manapun dari 6 kesadaran.

Bicara pengendalian diri, hal ini terbagi 3: Pikiran, ucapan, perbuatan. Ketiganya saling mempengaruhi dan saya rasa bro sekalian sudah mahir akan hal ini.

Menurut sy,
Dgn Penuh Kesadaran untuk berpikir dan berpikir dgn penuh kesadaran, tertuju pada iman/ keyakinan yg menjadi tuntunan hidup,
Dan diselaraskan dgn ucapan dan prilaku..
Tiap detik.. tiap menit..
(ini teorinya.. menurut sy..)

Semoga menjawab pertanyaan anda..

Semoga Semua Mahluk Berbahagia

~Peace
Freedom'

terima kasih sebelumnya udah mau memberikan satu petunjuk bt saya. tapi semakin saya perhatikan topik ini kayaknya agak berantakan ya. maaf sebelumnnya, terus terang saya melihatnya sprti itu. ada yang membicarakan kesadaran ini, di artikan lain oleh itu. sebenarnya topik kesadaran ini menurut saya lebih baik di khususkan, yaitu kesadaran yang bagaimana, apakah kesadaran pikiran, apakah kesadaran hati, apakah kesadaran indera, atau kesadaran ilahi/kebudhaan,.kalau di bicarakan secara umum malah akan kelihatan rancu alias gak nyambung.
nah, dari jawaban om tadi, kebetulan nyambung. yang saya tangkap om memberikan tanggapan tentang kesadaran yang berasal dari hati nurani dan pikiran/berpikir(otak) itu sendiri. mungkin jawaban om bila saya artikan sendiri, maaf ya om bila salah,.. bahwa beriman/berkeyakinan, pikiran dan kesadaran(hati nurani) dua dua nya berperan. beriman dg berpikir tanpa kesadaran(hati nurani) mengakibatkan kita buta, (ibarat berjalan di sebuah tempat yang gelap,sungg uh berbahaya). sedangkan beriman dg kesadaran(hati nurani) tanpa berpikir, mengakibatkan kesadaran kita tak berkembang, (ibarat berada di tempat yang terang, tapi kita hanya jalan di tempat), tdk ada karya/hal hal yang dapat membuat kesadaran(hati nurani) kita berkembang. ini pendapat dari saya thd jawaban om. kalau tidak sesuai dg pendapat dari om, dg sangat mohon petunjuknya. terima kasi om.

note; dalam hal ini kesadaran(hati nurani) yang saya bicarakan bukanlah kesadaran ilahi/kebudhaan, atau kesadaran output. melainkan bagian dari kesadaran ilahi/kebudhaan/output itu sendiri, yang apabila proses kesadaran(hati nurani) trus berkembang pada saat klimaksnya maka terpenuhilah kesadaran output/ilahi/buddha.



huehe.. kan gw bilang waktu retret rasanya kepala gw ini puyeng.. duh. . pada dasarnya beberapa aliran itu menggunakan sutra yang sama, tapi dengan sedikit perbedaan pandangan terhadap kesunyataan.

sautrantika (theravada style)
kesunyataan adalah semua benda tidak memiliki inti. contohnya ada dalam kitab milinda panha. perdebatan antara Bhiksu Nagasena dan Raja Milinda.
Bhiksu nagasena menjelaskan bahwa kereta itu tidak memiliki inti, terdiri dari roda, pedati, dll.. sehingga apabila komponen2 kereta dipisahkan, tidak ada lagi yang disebut kereta.

yogacara
kesunyataan adalah kesalah-pandangan terhadap suatu object karena subject tidak memiliki cukup karma untuk menikmati suatu object. saya ambil dari contoh yang sama, kereta dapat disebut kereta karena adanya "kesepakatan bersama" / "karma bersama". andaikata ada seekor monyet menaiki kereta, si monyet mungkin tidak akan menyadari bahwa benda yang dinaikinya adalah "kereta".

dalam sudut pandang yogacara, tidak ada satupun benda didunia ini yang memiliki "nilai" yang sama bagi semua makhluk. misalkan: mobil, bagi sebagian orang mobil adalah barang murahan, bagi orang lain barang mahal. uang bagi sebagian orang tidak berharga, bagi sebagian orang sangat berharga. pendidikan bagi sebagian orang tidak berharga, bagi sebagian orang sangat berharga...

beberapa konsep yogacara yang lebih dalam :
apakah anda sedang memandang warna putih di layar monitor anda, sama seperti saya memandang warna putih di layar monitor saya.? (that's why some people likes white color and some people dislike white color)
apabila kita memakan gula yang sama dari bungkusan yang sama, apakah anda merasakan gula itu lebih manis/lebih pahit dari gula yang saya makan ..? ( some people like sugar, some hate it)



madayamika.
semua benda itu sunyata dan kesunyataan itu adalah kesunyataan. ... membisu..... bahkan sunyata itu adalah sunya. madyamika dibawakan oleh Master Nagarjuna, beliau menentang konsep-konsep bahwa kesunyataan itu adalah sebuah object. kesunyataan adalah kesunyataan. apabila kesunyataan dijadikan object. maka kesunyataan itu adalah object yang dinamakan "kesunyataan". karena itu semua benda di dunia ini adalah hasil dari "penamaan" yang tidak memiliki inti dari sananya.


contoh doktrin :
Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

beberapa umat Buddha sering menafsirkan sabda Sang Buddha diatas sebagai Ke-Tuhan-an dalam agama Buddha. penafsiran ini jelas bertentangan dengan sudut pandang Madyamika. karena dengan pe-nama-an konsep ini dengan object Ke-Tuhan-an, maka ke-Tuhan-an itu sendiri tidak lagi memiliki sifat sunya...
jadi apabila ada pertanyaan menurut sudut madyamika Tuhan itu ada atau tidak..? hmm... . "semua benda adalah sunya .dan sunya adalah sunya" ...
"tuhan adalah sunya, sunya adalah sunya"

(zen style... membisu... )

Reaksi:

0 komentar: