Friday, June 03, 2011

Pikiran Kita Dapat Mengubah Otak Kita

Pikiran Kita Dapat Mengubah Otak Kita

“MEREKA yang mengharapkan dirinya sakit, akan menjadi sakit”. Beberapa hari lalu saya kedatangan seorang kawan untuk memeriksakan diri. Karena ia tahu saya berpraktik sebagai dokter ia sempatkan diri untuk cari tahu kondisi kesehatannya. Sebagai dokter tentu saya bisa menduga bahwa yang bersangkutan ini sesungguhnya sehat. Lucunya, setiap akan memeriksa tekanan darah ia mengatakan pada saya bahwa tekanan darahnya pasti tinggi. Ini berlangsung dalam 3 kali pemeriksaan. Anehnya, tekanan darahnya memang tinggi, dan diikuti perasaan tegang yang tampak dari wajahnya.

Hampir semua dokter praktik pernah menemukan pasien serupa. Bahkan lebih dari itu, saya pernah menemukan pasien-pasien yang mengalami efek samping obat menurut apa yang dia sangkakan. Efek samping obat timbul karena ia menduga bahwa ia akan mengalaminya. Sejak kejadian itu saya menjadi berhati-hati untuk menyampaikan efek samping obat dalam setiap pengobatan. Saya sendiri sering mencoba dengan diri saya untuk memicu serangkaian reaksi setelah minum obat. Anehnya, apa yang saya sangkakan itu betul-betul muncul. Kalangan kedokteran menyebut fenomena di atas dengan “fenomena plasebo”.

Maksudnya, seseorang dapat mengalami suatu keadaan tertentu yang seharusnya ditimbulkan oleh obat atau rangsangan tertentu, hanya dengan memberikan rangsangan yang mirip dengan rangsangan yang sebenarnya. Fenomena plasebo yang dilakukan oleh obat-obatan kita sebuah “obat plasebo”. Mengapa terjadi efek plasebo? Para dokter praktik menyebut pengaruh sugestilah sehingga efek ini muncul. Pasien memiliki keyakinan tertentu terhadap stimulus atau obat plasebo sehingga ia mendapatkan efeknya.
Sayangnya, dalam dunia kedokteran saat ini—terutama di Indonesia—pengaruh plasebo dipandang secara remeh dan dianggap tidak memberikan kontribusi apa-apa dalam pengobatan. Lebih lucu lagi banyak dokter yang tidak percaya adanya efek plasebo ini.

Sejumlah peneliti medis yang dipimpin oleh McRae pada tahun 2004 melaporkan sejumlah hasil penelitian mereka dalam majalah bergengsi Archives of General Psychiatry no 61 pada halaman 412-420. Salah satu laporannya menunjukkan bagaimana fenomena plasebo ini terjadi pada penderita penyakit Parkinson. McRae membandingkan 30 orang pasien yang mendapat pencangkokan sel induk embrio pada daerah otak yang rusak dengan penderita Parkinson yang mendapat pembedahan pura-pura. Hasilnya? Mereka yang telah mengira mendapat pencangkokan sel induk embrio menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik setahun kemudian, dibandingkan dengan mereka yang telah mengira mendapat pembedahan pura-pura, terlepas dari pasien mana yang menerimanya. Penelitian lebih canggih lagi dilakukan oleh Wager dkk (2004).
Sebagaimana dimuat dalam jurnal Science 303 (nomor 5661, 20 Pebruari 2004, halaman 1162-1167). Artikel di bawah judul “Placebo Induced Changes in fMRI in the Anticipation and Experience of Pain”, yang ditulis oleh Wager dkk menunjukkan hasil pemetaan dengan alat canggih bernama fMRI terhadap fenomena plasebo berkaitan dengan nyeri. Para pemuda sehat diberikan suntikan air garam ke dalam rahang mereka dan mengukur pengaruh dari tekanan menyakitkan yang dihasilkannya melalui alat bernama PET scan. Para subyek ini diberitahukan bahwa mereka diberi obat penawar rasa sakit. Hasilnya? Para subyek melaporkan adanya perasaan lebih baik dibandingkan semula. Padahal obat yang diberikan itu bukanlah obat penawar rasa sakit, melainkan sejenis serbuk yang dikemas sedemikian rupa. Dengan alat pemindai otak yang digunakan itu Wager dkk menemukan bahwa ketika subyek mengetahui bahwa mereka diberikan obat penawar rasa sakit, maka seketika itu bagian-bagian otaknya yang berkaitan dengan persepsi dan rasa terhadap rasa sakit itu menunjukkan penurunan aktivitas. Penelitian Wager ini membuktikan bahwa soal plasebo lebih dari sekadar efek sugesti yang tak bisa dilihat. Buktinya, area otak seperti talamus, insula, girus singulatus dan corteks prefrontal menunjukkan penurunan aktivitas. Ini artinya, plasebo itu betul-betul berefek secara fisik, setidaknya berkaitan dengan pengalaman rasa sakit. Efek placebo telah mengubah pengalaman rasa sakit itu sedemikian rupa. Secara praktis, penelitian ini memberikan bukti bahwa Anda bisa terlibat secara aktif dalam penyembuhan diri Anda sendiri dengan terlebih dahulu membangun keyakinan yang kuat terhadap proses pengobatan. Jika memerhatikan adanya keterlibatan area otak bernama Cortex Prefrontal (CPF), maka fenomena plasebo berkaitan erat dengan proses berpikir. CPF ini adalah bagian otak yang khas manusia. Struktur jaringannya lebih sempurna pada otak manusia dibandingkan makhluk lain menjamin kekuatan fungsi pikiran dari otak manusia.

Fenomena plasebo sepenuhnya berkaitan erat dengan fungsi berpikir manusia. Singkatnya, efek plasebo dapat terjadi karena subyek mampu berpikir. Pendapat saya ini dikuatkan dengan riset yang dilakukan pada penderita penyakit Alzheimer. Fabrizio Benedetti (2005) misalnya menemukan bahwa pada penderita penyakit Alzheimer ini efek plasebo penghilang rasa sakit tidak bekerja sama sekali. Gangguan kognitif pada penderita penyakit ini menghalangi kemampuan mereka memersepsi rasa sakit itu. Pengertian tentang stimulus yang dilakukan oleh bagian kognitif otak menjadi titik penting dari fenomena plasebo.

Fenomena plasebo berakar pada hubungan pikiran, otak dan sistem kekebalan tubuh. Sejak 20 tahun lalu para ahli mengelompokkan studi-studi tentang hubungan ini dalam bidang bernama psikoneuroimunologi. Makin hari makin banyak riset membuktikan adanya hubungan antara 3 komponen ini. Karena itu, sudah usang dan keliru anggapan sebagian besar dokter bahwa fenomena plasebo hanya soal sugesti saja. Lebih keliru lagi anggapan yang menyatakan bahwa fenomena plasebo tidak penting dalam dunia kedokteran. Keyakinan-keyakinan Anda terhadap pelbagai realitas yang di sekitar Anda, termasuk pelbagai keyakinan diri Anda tentang penyakit dan kesehatan, akan turut memberikan kontribusi dalam proses penyembuhan. Sayangnya, tradisi pengobatan di Indonesia masih kaku dengan kemajuan ini. Para dokter masih menganggap bahwa dalam proses terapetik (pengobatan) pasien hanyalah seonggok daging yang pasif, dan obatlah yang aktif. Mereka lupa bahwa pasien turut memberikan kontribusi dalam penyembuhan dirinya.

Reaksi:

0 komentar: