Friday, June 03, 2011

Keajaiban Pikiran Manusia

Keajaiban Pikiran Manusia

Tulisan ini merupakan refleksi dari acara seminar “Mengembangkan Kualitas Diri Menuju Masa Depan Bahagia” yang saya ikuti beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 8 Maret 2008. Bersama tiga pembicara yang sangat istimewa, kalau tidak bisa dikatakan sebagai luar biasa, Bhante Uttamo, Suhu Xian Bing dan Romy Rafael (salah seorang pakar hipnotis Indonesia).

Saya tidak berusaha untuk menguraikan apa yang terjadi disana, namun lebih menulis inti dari apa yang ingin disampaikan dalam seminar tersebut. Terlepas dari acaranya yang begitu sangat menghibur dan juga memberi kesan yang sangat mendalam di hati saya, pada acara itu masih terdapat pula rekan-rekan se-Dharma yang masih memiliki pola pikir yang “ehem-ehem” terhadap ajaran Sang BUDDHA. Terbukti ada seorang umat yang memberi komentar kepada Romy Rafael (yang kebetulan memiliki keyakinan non Buddhis), bahwa semua hal yang dipresentasikannya hari itu semuanya sudah ada di ajaran BUDDHA & Bhante Uttamo pun memberikan “sentilan” yang cukup mengena kepada umat tersebut, bahwa kebenaran ada di semua jalan (baca: agama), karena yang paling utama adalah manusianya itu sendiri yang mau jadi orang baik atau tidak, sedangkan jalan yang dia pilih bisa apa saja (sesuai kecocokan hatinya). Bahwa saat manusia sudah mampu untuk menghindari kejahatan dan selalu memupuk kebajikan, baik dalam ucapan, pikiran maupun tindakannya berikut pelatihan terhadap batinnya (samadi/meditasi) agar bisa terbebas dari kekotoran batin, maka sebenarnya manusia yang seperti itu sudah tidak membutuhkan jalan (agama) lagi. Kejadian-kejadian seperti ini sudah seringkali saya temui (baik pada saat saya sharing Dharma di sebuah Vihara maupun pada seminar-seminar Dharma yang saya ikuti) dan saya sungguh sangat berkesan dengan cara Bhante Uttamo (dan juga Ajahn Brahm) dalam menghadapi sikap umat-umat yang masih memiliki pola pikir yang kurang tepat (fanatisme sempit) itu.

Suhu Xian Bing juga hari itu sangat memukau dengan presentasinya yang tenang namun lugas. Hari itu Beliau memang lebih banyak mengupas dari sudut Buddhistic tentang kekuatan pikiran, namun tetap saja selalu ada hal yang baru yang dapat diperoleh dari Suhu. Terus terang, dari semua penampilan Suhu yang saya ikuti selama ini, hari itu adalah penampilan Suhu yang paling keren. Dengan humor-humor yang cerdas dan juga wawasan Suhu yang sangat luas, membuat suasana menjadi fun sekaligus mencerahkan hati dan pikiran kita semua yang hadir. Mungkin istilah yang tepat untuk penampilan Suhu hari itu adalah funky & enlightning, hehehe…

Penampil kedua adalah Romy Rafael, sang pakar hipnoterapi, yang hari itu juga sangat menghibur dengan atraksi copetnya kepada para penonton. Ya, hari itu Romy menunjukkan “bakatnya” selain hipnotis yaitu mencopet, hehehe… Penonton begitu sangat terhibur dengan kemampuan unik Romy itu. Romy juga sempat mendemonstrasikan kemampuan hipnotisnya termasuk mengajak seluruh penonton untuk memecahkan sebuah gelas dengan kekuatan pikiran (it’s cool guys, hehehe…).

Penampilan Bhante Uttamo juga tak kalah hebohnya dengan Suhu dan juga Romy, karena hari itu Bhante Uttamo telah sangat sukses membuat seluruh hadirin tertawa berderai-derai hingga mengeluarkan air mata kebahagiaan, hehehe… Bahkan hari itu otot perut saya juga menjadi sangat kencang karena terlalu banyak tertawa, hihihi… Pada momen itu, Bhante juga menyampaikan bahwa segala hal yang terjadi di dalam kehidupan kita semuanya berawal dari pikiran kita (Pikiran adalah Pelopor). Bahkan hal itu juga termasuk pada proses pembentukan manusia oleh orang tuanya. Bermula dari pertanyaan seorang penonton tentang mengapa ada orang tua yang sangat baik tapi memiliki anak yang jahat dan mengapa ada orang tua yang sangat jahat tapi memiliki anak yang sangat baik. Bhante Uttamo menjawab bahwa kejadian semacam itu juga sangat erat kaitannya dengan pikiran, hanya saja tidak banyak orang yang menyadari. Bhante menegaskan bahwa meskipun sepasang suami istri itu adalah orang baik, namun apabila pada saat proses pembuahan, orang tuanya tidak menjaga batinnya agar selalu dalam Dharma, maka hasilnya juga buruk.

Dikatakan pada salah satu Sutra Buddhis, bahwa pada saat proses pembuahan sebenarnya proses kehidupan sudah terjadi dikarenakan adanya arus kehidupan yang telah masuk (proses tumimbal lahir), oleh karena itu, menurut Bhante, seorang manusia yang baru lahir, dalam konsep Buddhis, sudah berusia sembilan bulan (karena dihitung dari awal arus kehidupannya memasuki embrio hasil pembuahan). Itulah sebabnya juga, mengapa aborsi tetap dianggap pembunuhan (di dalam konsep Buddhis) meski untuk sebuah embrio yang baru berumur satu hari sekalipun (tidak seperti konsep medis, yang menganggap bahwa aborsi terjadi bila embrio sudah berbentuk janin).

Bhante juga mengungkapkan bahwa orang tua yang baik tapi memiliki anak yang jahat bisa saja terjadi akibat dari pikiran orang tuanya pada saat proses pembuahan, hanya memikirkan nafsu birahi semata. Sedangkan orang tua yang jahat namun bisa memiliki anak yang baik, bisa dikarenakan pada saat proses pembuahan terjadi, mereka berdua mempunyai harapan (yang terpancar di dalam pikirannya) semoga mereka memiliki anak yang berbakti, maka anak mereka besar kemungkinan menjadi anak yang baik. Memang menurut Bhante ada faktor-faktor lain yang mendukung, misalnya hukum karma dan sebab musabab yang saling berkesinambungan, namun yang paling utama tetap adalah menjaga batin dan pikiran agar selalu senantiasa di dalam Dharma.

Apa yang diungkapkan oleh Bhante kebetulan senada dengan apa yang diuraikan dalam seminar yang saya ikuti seminggu sebelumnya di Vihara Dharmasagara tentang “Pacaran tanpa Sex, can you?” bahwa pikiran orang tua (terutama pada saat proses pembuahan) memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam pembentukan watak/kepribadian anak yang akan mereka lahirkan, sisanya adalah kekuatan karma dan sebab musabab yang berkesinambungan. Jadi intinya adalah, yang sudah menikah secara resmi saja, bisa memiliki anak yang negatif, bagaimana bila melakukannya di luar nikah? Hehehe… Belum lagi konsekwensinya terhadap kesehatan (terutama alat kelamin), Dharma (sila ke-3 Pancasila Buddhis) dan hukum karma (dapat tumimbal lahir di alam2x/kondisi yang kurang OK pada kelahiran selanjutnya).

Ada dua kejadian menarik yang juga patut disimak dari acara seminar di Mega Glodok Kemayoran, yaitu ketika ada umat yang menanyakan bagaimana solusi terhadap kondisi negara Indonesia yang kebetulan terpuruk ini. Bhante dengan nada setengah bercanda menjawab bahwa daripada bertanya kepada orang lain, lebih baik (sang penanya) bertanya kepada diri sendiri, “apa yang bisa ia lakukan untuk negeri ini”? Bhante mengharapkan bahwa sebagai siswa Sang Buddha yang baik, seharusnyalah kita semua menjadi orang intropektif (yang selalu melihat ke dalam diri) dan bukannya sebagai orang yang cenderung selalu mengeluh atau bahkan selalu menyalahkan pihak lain bila terjadi masalah.

Kejadian menarik lainnya adalah saat ada umat yang bertanya kepada Suhu Xian Bing mengenai “apakah bila kita sudah melaksanakan fang shen (melepas makhluk hidup) kita harus melakukan pantang memakan binatang yang telah kita lepas”? Suhu menjawab dengan bijak bahwa semuanya harus melalui proses yang alamiah. Apabila kita lakukan fang shen dengan sungguh-sungguh serta penuh metta & juga kebijaksanaan, maka efeknya adalah empati kita pasti akan kemudian bertumbuh & juga berkembang kepada makhluk-makhluk yang kita lepaskan. Sehingga pada akhirnya, secara otomatis dan alamiah (karena kasih yang muncul itu), kita bisa saja berhenti mengkonsumsi (daging) dari makhluk-makhluk yang kita lepaskan itu.

Demikianlah apa yang dapat saya tangkap dari seminar luar biasa itu. Besar kemungkinan banyak hal-hal yang tidak tertangkap dengan baik karena keterbatasan pikiran saya. Namun mudah-mudahan apa yang disampaikan kiranya tetap bisa memberikan manfaat bagi rekan-rekan se-Dharma. Terima kasih tulus saya sampaikan untuk ketiga pembicara, juga kepada Mr. Po selaku moderator yang hari itu juga memandu acara dengan sangat apik serta MC dan juga panitia Selamat berbuat kebajikan dan semoga selalu berbahagia, Saddhu.
Penuh Metta,
Wedy
(penulis adalah seorang MC, Trainer & Hipnoterapis)

Reaksi:

0 komentar: